
Pernah gak ngerasa makin tua makin indentitas kita makin gak kelihatan?
Maksudnya, perhatikan deh gimana para ibu-ibu dipanggil. Biarpun tuh ibu punya nama tapi kalo disebut selalu nama kalo gak anaknya ato suaminya. Kenapakah itu?
Contoh:
Percakapan disebuah sekolahan.
Ibu 1: "Eh Ibu Dian itu kenapa yah beli baju model gitu...kan gak pantes yah"
Ibu 2: "Ibu Dian siapa? Anak baru yah?"
Ibu 1: "Bukan, itu loh Jeng(kol) ibunya si Rama."
Ibu 2: "Oooh Bu Rama!"
Kesimpulan percakapan diatas: Biasanya ibu-ibu itu dikenali dari nama sang anak. Kalo pakai nama sendiri, jarang banget seorang ibu bisa dikenal lewat nama aslinya...kenapa demikian?
Contoh lagi:
Percakapan disebuah arisan dirumah yang sejuk.
Ibu I: "Siapa nih yang belum bayar? Eeem...Bu Mira? Bu Mira sudah bayar belum?"
Ibu II: "Ih Ibu gimana sih, dia mah sudah bayar atuh!"
Ibu I: "Mana Bu, kok gak ada dicatatan?"
Ibu II: "Ini, Ibu Joko. Sudah kan, tadi saya yang terima duitnyah."
Ibu I: "Oooh..."
Kesimpulan dari contoh lagi: Ibu Mira adalah istri dari Bapak Joko dan banyak yang tidak kenal sama Mira kenalnya Bu Joko. Kenapa demikian?
Kasian yah...seharusnya para ibu-ibu jangan sampai terjadi seperti itu. Apakah mereka hanya dikenali oleh siapa suami atau anak-anaknya sajakah? So sad....
Tapi kayaknya krisis identitas diatas jarang dialami oleh wanita yang masih singel. Jarang sekali gue melihat wanita dewasa dipanggil misal; Ibu Yoyo-karena bapaknya namanya Yoyo. Pasti dipanggil namanya.
Jadi apa yang membedakan wanita single dan wanita yang sudah berumah tangga? Seharusnya mah hal seperti ini tidak terjadi. Kita sebagai manusia kan punya identitas masing-masing, jangan karena suami atau anak kita membiarkan identitas kita "tercuri".
Biasakan mengenalkan diri pakai nama sendiri (ya iyalah dong) dan biasakan untuk membiasakan orang lain menegur/menyapa/menidentifikasikan kita dengan nama kita sendiri. Jadi jangan mau kalo disebut Ibunya Rama atau Ibu Joko. Say my name ^__^